Pages

"All About Psikologi Belajar"

Dalam rangka memenuhi UAS mata kuliah Psikologi Belajar, maka saya memilih untuk membahas dinamika belajar mata kuliah Psikologi Belajar selama satu semester ini dengan menggunakan tabel 1.8 mengenai “Perbandingan Tujuh Teori Kontemporer dalam Bidang Belajar” sebagai panduan untuk menganalisa.

TEORI
JENIS
FOKUS
Pengkondisian berpenguat Skinner
Proses belajar
Penataan konsekuensi untuk perilaku pemelajar
Kondisi belajar Gagne
Proses belajar
Relasi fase pemrosesan informasi dengan tipe tugas belajar dan instruksi
Teori kognitif
Proses belajar
Proses pencarian informasi, pengingatan, pengelolaan belajar, dan pemecahan masalah
Epitemologi developmental Piaget
Perkembangan kognitif
Perkembangan kecerdasan dari bayi hingga dewasa
Teori kultural - historis Vygotsky
Perkembangan kognitif
Peran symbol cultural dalam perkembangan fungsi mental
Teori kognisi-sosial Bandura
Konteks sosial
Pengaruh model dan faktor lingkungan dan personal terhadap perilaku
Teori dan model motivasional
Konteks sosial
Pengaruh pada perilaku yang berkaitan dengan prestasi/pencapaian

1)       Pengkondisian berpenguat Skinner

Dalam teori Skinner dikatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku atau behavioral. Kunci untuk memahami perilaku yang kompleks adalah memahami kejadian dan proses yang menyebabkan respons diberikan. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi behavioral yang meningkatkan frekuensi respons. Kategorisasi dari reinforcement dapat didasarkan pada cara stimuli memperkuat perilaku, yaitu reinforcement positif dan reinforcement negative. Persamaan antara kedua reinforcement adalah konsekuensinya memperkuat perilaku, sedangkan perbedaannya adalah dalam hal cara memperkuat perilaku. Dalam kelas Psikologi Belajar, dosen pengampu sering memberikan penguatan agar lebih aktif di kelas. Beliau menekankan agar mahasiswanya lebih menyadari peran sebagai mahasiswa, yang bukan merupakan seorang siswa lagi. Mahasiswa sudah seharusnya mampu berpikir kritis. Namun mahasiswa sepertinya masih enggan untuk terlibat aktif di kelas. Selain memberi penguatan, dosen juga pernah memberikan reward atas penguatannya di kelas. Pada saat itu mahasiswa diberikan tiga stimulus berupa kertas, dan mahasiswa diperintahkan untuk menghasilkan produk dari ketiga stimulus tersebut. Setelah itu, produk yang dihasilkan akan diberi penilaian oleh seluruh mahasiswa di kelas Psikologi Belajar. Tiga mahasiswa yang mendapat penilaian terbaik akan mendapatkan reward dari dosen. 

Sebelumnya dosen memberikan penguatan agar mahasiswanya dapat sekreatif mungkin menciptakan produk untuk mendapatkan penilaian terbaik. Hal itu dapat dikategorikan sebagai reinforcement positif. Selain reinforcement positif,  dosen pengampu juga pernah memberikan reinforcement negative di dalam kelas. Pada saat itu, mahasiswa lagi-lagi tidak terlibat aktif di kelas sehingga membuat dosen pengampu “gerah” dan “mengancam” untuk keluar kelas jika mahasiswa masih tidak responsive. Tentu saja hal itu tidak diinginkan oleh mahasiswa. Sehingga pada akhirnya beberapa mahasiswa terlibat aktif di kelas untuk “menyelamatkan” situasi. Respon yang menimbulkan penghentian atau penghilangan stimulus diskriminatif tersebut disebut sebagai perilau penghindaran (escape behavior). Hal itu dilakukan beberapa mahasiswa agar dosen pengampu tidak meninggalkan kelas, dan kegiatan belajar tetap berjalan.  

2)   Kondisi belajar Gagne

Dalam teori Gagne terdapat 9 tahapan belajar yang dikategorikan kedalam 3 tahapan umum, yaitu : (a) persiapan belajar ; (b) akuisisi dan kinerja yang merupakan “peristiwa inti” dalam mempelajari kapasitas baru ; (c) transfer belajar, yang memberikan aplikasi untuk kapabilitas baru di dalam konteks yang baru. Dalam tahap persiapan belajar terdapat proses memperhatikan, harapan, dan pengambilan informasi yang relevan untuk dibawa ke ingatan kerja. 

Dalam kelas Psikologi Belajar, sebelum memulai perkuliahan, dosen memperhatikan keadaan kelasn dahulu. Apabila bangku di depan masih kosong, Beliau sering meminta agar mahasiswa yang di belakang untuk mengisi bangku kosong di depan. Setelah melihat semua mahasiswa sudah siap untuk belajar, barulah dosen pengampu memulai kuliah. Sebelumnya dosen menanyakan kepada mahasiswa mengenai topik yang akan dipelajari pada saat itu, tujuannya adalah untuk mengetahui persiapan belajar mahasiswa dan membangun harapan agar mahasiswa lebih aktif di perkuliahan setelah mengetahui materinya atau bahkan sudah mempelajari materi tersebut, sehingga akan memudahkan proses belajar di kelas. Setelah itu biasanya dosen pengampu menanyakan apa yang khas dari teori tokoh psikologi belajar yang materinya akan dipelajari pada saat itu. Hal itu bertujuan agar mahasiswa mampu mengingat dan membedakan konsep teori psikologi belajar dari berbagai perspektif. 

Dalam tahapan akuisisi dan kinerja, terdapat proses persepsi selektif terhadap ciri stimulus, pengkodean semantik, retrieval dan respons, serta penguatan. Tahapan tersebut selain berguna untuk memudahkan mahasiswa dalam membedakan konsep yang khas dari berbagai tokoh, juga berfungsi agar mahasiswa mampu mentransfer informasi tersebut ke dalam ingatan jangka panjang (encoding) untuk selanjutnya diproses dan ketika ditanya kembali oleh dosen, mahasiswa akan merespon dengan baik. Di dalam tahapan transfer belajar, terdapat proses pengambilan petunjuk dan kemampuan generalisasi. Aplikasinya di dalam kelas adalah, ketika di perkuliahan mendatang dosen kembali menanyakan tentang suatu konsep, maka dosen memberikan informasi tambahan mengenai konsep tersebut. Seperti halnya dosen pengampu pernah mengatakan bahwa teori yang sedang dipelajari pada saat itu tidak hanya dapat diaplikasikan kedalam satu kejadian saja, namun teori tersebut erat kaitannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan begitu, mahasiswa lebih mampu berpikir menyeluruh dan memperkaya transfer ke dalam situasi yang baru dengan kemampuan generalisasinya.

3)      Teori Kognitif

Dalam pemrosesan informasi, dibutuhkan perhatian selektif terhadap kejadian, objek, simbol, dan stimuli tertentu lainnya agar informasi itu dapat dipelajari. Seperti pada saat di dalam kelas Psikologi Belajar ketika dosen pengampu menjelaskan instruksi penugasan, mahasiswa seharusnya memberikan perhatian yang selektif agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda-beda mengenai pengerjaan tugas. Apalagi dalam penginstruksian tugasnya, dosen tidak hanya memberikan instruksi verbal di kelas, namun dapat berupa instruksi non verbal yaitu dengan memanfaatkan media grup facebook. Untuk itu mahasiswa harus lebih fokus memberikan atensinya terhadap instruksi-instruksi yang diberikan dosen. Sebuah model aktivitas metakognitif dalam belajar terdiri dari empat tahap , yaitumendefinisikan tugas, menentukan tujuan dan perencanaan, melakukan taktik dan strategi belajar, serta mengadaptasi studi.       
                        
Hal ini sesuai dengan proses review jurnal pada mata kuliah psikologi belajar. Dimana ketika dosen memberikan instruksi penugasan, maka mahasiswa memunculkan persepsi masing-masing mengenai pengerjaan tugas tersebut. Setelah memilih jurnal yang sesuai dengan instruksi, mahasiswa menentukan tujuan dan perencanaan dalam mereview jurnal tersebut. Apakah jurnal tersebut sudah memberikan informasi yang cukup jelas dan apa yang ingin dianalisa dari hasil jurnal tersebut. Lalu mahasiswa melakukan taktik dan strategi belajar, seperti memahami istilah-istilah kata dan penemuan-penemuan baru dalam jurnal tersebut, dan istilah-istilah baru yang ditemukan di jurnal tersebut akan dipelajari lagi melalui buku panduan sampai menemukan suatu titik kesimpulan dari jurnal tersebut sehingga kemudian dapat dipelajari dengan baik dan lebih mudah menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu semua, proses metakognitif paling banyak berperan dalam proses belajar di mata kuliah psikologi belajar dikarenakan tugas yang diberikan dosen pengampu bervariasi. Untuk itu mahasiswa dituntu agar dapat berproses lebih baik dalam mempersepsi, memahami, dan memaknai setiap tugas yang diinstruksikan dosen.

4)   Epitemologi developmental Piaget

Menurut Piaget , peran seorang guru adalah pertama-tama membuat dan mengorganisasikan aktivitas kelas. Kedua, memberi contoh yang membawa siswa untuk memikirkan kembali ide yang mereka buat. Ketiga, untuk memunculkan ide anak melalui pertanyaan tidak langsung seperti “Dapatkah kalian jelaskan tentang hal ini?”. Dalam proses belajar yang berlangsung di kelas Psikologi Belajar beberapa minggu yang lalu, dosen pengampu meminta kami untuk melakukan kegiatan yang melibatkan kelas dalam bentuk kelompok. Pada saat itu ada beberapa kelompok yang beruntung menampilkan ‘aksi’ mereka di dalam kelas. Ada yang menggunakan konsep games, mengajarkan tutorial blog, dll. Peran seorang dosen pada saat itu awalnya mempersilakan kelompok untuk menunjukkan ‘aksi’ mereka di dalam kelas, seperti konsep yang sudah mereka buat. Kemudian setelah selesai dan dievaluasi, dosen meminta kelompok untuk memikirkan kembali ide atau konsep yang sudah mereka buat.

 Dengan konsep seperti itu, bagaimana mereka bisa menjelaskan peranan suatu teori di dalamnya. Apakah teori yang digunakan sebagai landasan konsep mereka sudah berhasil dalam proses pengaplikasiannya di dalam kelas. Sehinggadengan begitu, mahasiswa mampu berpikir abstrak dan logis sesuai tahap perkembanan pemikiran operasional formal.

5)  Teori cultural-historis Vygotsky

Dalam teori Vygotsky dikatakan bahwa proses pengajaran itu selalu dilakukan dalam bentuk kerjasama anak dengan orang dewasa dan merepresentasikan kasus parsial dari interaksi antara bentuk ideal dan bentuk yang ada. Pada mata kuliah psikologi belajar, dosen pengampu sering mengingatkan mahasiswa agar proses belajar yang terbentuk di kelas adalah komunikasi mahasiswa. Untuk itu mahasiswa diminta untuk aktif dan memberikan opini-opini nya di dalam kelas. Sebelumnya, saat pertama kali menjelaskan kontrak kuliah, semua aturan penugasan dan presentase penilaian juga bukan semata-mata ditetapkan berdasarkan kehendak dosen pengampu, akan tetapi atas kesepakatan semua mahasiswa di kelas. Semua itu bertujuan untuk memudahkan mahasiswa sendiri dalam proses belajar. Mahasiswa sendirilah yang paling mengenal cara dan kemampuannya dalam belajar. Untuk itu dosen tidak ingin menyulitkan mahasiswa. Aturan-aturan yang sudah ada sebelumnya dikomunikasikan lagi dengan mahasiswa, untuk mendapatkan kesepakatan bagaimana idealnya kontrak kuliah tersebut bisa dijalankan dengan baik oleh seluruh mahasiswa. Dengan cara seperti itu, dosen mengajarkan mahasiswa untuk membangun komitmen dan bertanggungjawab terhadap apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama.

6)      Teori Kognisi-Sosial Bandura

Asumsi teori belajar Bandura ada tiga, yaitu ; (1) Pemelajar dapat mengabstraksi informasi dari pengamatan terhadap oran lain dan membuat keputusan tentang perilaku yang akan dijalankan ; (2) Tiga cara relasi yang saling terkait antara perilaku (B), lingkungan (E), dan kejadian personal internal (P) akan menjelaskan belajar : (3) Belajar adalah akuisisi representasi simbolik dalam bentuk kode verbal atau visual. Pada saat mata kuliah psikologi belajar, pernah suatu ketika dosen pengampu memberikan postingan di grup psikologi belajar terkait tugas observasi di SMK Tritech Informatika. Namun hanya beberapa mahasiswa yang merespons postingan tersebut. Dari situ terdapat proses modeling antara mahasiswa. Dimana ketidakresponsifan mahasiswa disebabkan banyaknya sebagian mahasiswa yang juga tidak responsive terhadap postingan dosen. Sehingga hal tersebut menjadi pengamatan bagi yang lainnya.

 Selain itu, dalam mengobservasi di SMK Triteck Informatika, sebelumnya mahasiswa saling berdiskusi dengan partner yang melakukan observasi di tempat yang sama mengenai apa yang harus mereka observasi dan bagaimana proses pengerjaan tugasnya. Sehingga dapat dijadikan keputusan mengenai apa yang harus mereka lakukan. Relasi yang terkait antara perilaku, lingkungan, dan kejadian personal internal tentu akan menghasilkan proses belajar. Dimana pada saat itu, banyak mahasiswa yang tidak aktif karena melihat mahasiswa lain dalam lingkungan kelas psikologi belajar juga tidak banyak yang aktif maupun memberikan kritikan, sehingga memperngaruhi perilaku mahasiswa untuk berani terampil aktif di dalam kelas. Selain itu, bisa jadi faktor mahasiswa sendiri yang malu-malu atau memang tidak suka menonjol di kelas yang mempengaruhi keaktifan mahasiswa tersebut. 

7)   Teori dan Model Motivasional

Pendekatan utama untuk analisis motivasi adalah memiliki tiga asumsi. Pertama, motivasi individu adalah hasil dari interaksi antara faktor lingkungan dengan karakteristik tertentu dari anak. Hal ini dapat dilihat dalam kelas psikologi belajar, bahwa sebelumnya motivasi mahasiswa dalam merespon atau menanggapi postingan dosen sangat rendah, begitu juga saat kegiatan belajar berlangsung di kelas. Tetapi setelah hampir satu semester berproses dalam kelas, mahasiswa mulai dapat berinteraksi dengan lingkungan, dalam hal ini sesama mahasiswa di kelas psikologi belajar dan juga dosen pengampu sendiri. Seperti halnya ketika sedang berdiskusi bersama teman kelompok dan memosting tugas di blog masing-masing, kemudian dosen memberikan feedback yang membangun, tentunya akan meningkatkan motivasi mahasiswa untuk memperbaiki kinerja agar lebih baik. 

Kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif. Hal ini dapat terlihat ketika membedah film kinky boots, dan ternyata ada kesalahan teknis yang menyebabkan mahasiswa terpaksa mengakhiri kegiatan menonton bareng tersebut sebelum filmnya selesai. Mahasiswa sudah berencana untuk mencari hari ganti untuk menonton film itu sampai selesai, namun ternyata tidak ditemui hari yang pas. Kemudian beberapa kelompok bela-belain mencari dvd kinky boots tersebut di seluruh penjuru toko kaset. Dan akhirnya hanya beberapa orang saja yang beruntung mendapatkan dvd tersebut. Dari kejadian tersebut dapat diketahui bahwa mahasiswa-mahasiswa memiliki motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas dari dosen dengan baik. Untuk itu mereka aktif dalam memproses informasi mengenai lokasi penjualan dvd kinky boots.

Yang ketiga adalah bahwa ; motiv, kebutuhan, atau tujuan pemelajar merupakan informasi yang eksplisit. Untuk itu dalam kelas psikologi belajar, dosen selalu menuntun mahasiswa agar terlibat aktif di kelas dan berani mengemukakan pendapatnya, meminta mahasiswa untuk mempertajam analisisnya terhadap suatu teori secara jelas, serta menyampaikan evaluasinya berupa kritik dan saran mengenai kesan selama satu semester mengikuti perkuliahan psikologi belajar. Hal itu dilakukan dosen, agar ke depannya proses pembelajaran tidak hanya terjadi pada diri mahasiswa namun dosen juga. Selain mahasiswa, dosen juga harus memperbaiki diri agar lebih baik. Sebab proses belajar itu berlangsung sepanjang hayat. Jadi selama masih hidup, apapun posisi kita di dunia, kita tetap akan terus belajar dan memperbaiki diri untuk menjadi insan yang bermanfaat.


Tugas UAS




Untuk membahas dinamika belajar mata kuliah Psikologi Belajar selama satu semester ini, saya menggunakan tabel 1.8 mengenai “Perbandingan Tujuh Teori Kontemporer dalam Bidang Belajar” sebagai panduan untuk menganalisa. Namun saya akan menjelaskan beberapa teori saja.
TEORI
JENIS
FOKUS
Pengkondisian berpenguat Skinner
Proses belajar
Penataan konsekuensi untuk perilaku pemelajar
Kondisi belajar Gagne
Proses belajar
Relasi fase pemrosesan informasi dengan tipe tugas belajar dan instruksi
Teori kognitif
Proses belajar
Proses pencarian informasi, pengingatan, pengelolaan belajar, dan pemecahan masalah
Epitemologi developmental Piaget
Perkembangan kognitif
Perkembangan kecerdasan dari bayi hingga dewasa
Teori kultural - historis Vygotsky
Perkembangan kognitif
Peran symbol cultural dalam perkembangan fungsi mental
Teori kognisi-sosial Bandura
Konteks sosial
Pengaruh model dan faktor lingkungan dan personal terhadap perilaku
Teori dan model motivasional
Konteks sosial
Pengaruh pada perilaku yang berkaitan dengan prestasi/pencapaian

1)      Pengkondisian berpenguat Skinner
-          Dalam teori Skinner dikatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku atau behavioral. Kunci untuk memahami perilaku yang kompleks adalah memahami kejadian dan proses yang menyebabkan respons diberikan. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi behavioral yang meningkatkan frekuensi respons. Kategorisasi dari reinforcement dapat didasarkan pada cara stimuli memperkuat perilaku, yaitu reinforcement positif dan reinforcement negative. Persamaan antara kedua reinforcement adalah konsekuensinya memperkuat perilaku, sedangkan perbedaannya adalah dalam hal cara memperkuat perilaku. Dalam kelas Psikologi Belajar, dosen pengampu sering memberikan penguatan agar lebih aktif di kelas. Beliau menekankan agar mahasiswanya lebih menyadari peran sebagai mahasiswa, yang bukan merupakan seorang siswa lagi. Mahasiswa sudah seharusnya mampu berpikir kritis. Namun mahasiswa sepertinya masih enggan untuk aktif di kelas. Selain memberi penguatan, dosen juga pernah memberikan reward atas penguatannya di kelas. Pada saat itu mahasiswa diberikan tiga stimulus berupa kertas, dan mahasiswa diperintahkan untuk menghasilkan produk dari ketiga stimulus tersebut. Setelah itu, produk yang dihasilkan akan diberi penilaian oleh seluruh mahasiswa di kelas Psikologi Belajar. Tiga mahasiswa yang mendapat penilaian terbaik akan mendapatkan reward dari dosen. Sebelumnya dosen memberikan penguatan agar mahasiswanya sekreatif mungkin menciptakan produk untuk mendapatkan penilaian terbaik. Hal itu dapat dikategorikan sebagai reinforcement positif. Selain reinforcement positif, dosen pengampu juga pernah memberikan reinforcement negative di dalam kelas. Pada saat itu, mahasiswa lagi-lagi tidak terlibat aktif di kelas sehingga membuat dosen pengampu “gerah” dan “mengancam” untuk keluar kelas jika mahasiswan masih tidak responsive. Tentu saja hal itu tidak diinginkan oleh mahasiswa. Sehingga pada akhirnya beberapa mahasiswa terlibat aktif di kelas untuk “menyelamatkan” situasi. Respon yang menimbulkan penghentian atau penghilangan stimulus diskriminatif tersebut disebut sebagai perilau penghindaran (escape behavior). Hal itu dilakukan beberapa mahasiswa agar dosen pengampu tidak meninggalkan kelas, dan kegiatan belajar tetap berjalan.

2)      Kondisi belajar Gagne
-          Dalam teori Gagner terdapat 9 tahapan belajar yang dikategorikan kedalam 3 tahapan umum, yaitu : (a) persiapan belajar ; (b) akuisisi dan kinerja yang merupakan “peristiwa inti” dalam mempelajari kapasitas baru ; (c) transfer belajar, yang memberikan aplikasi untuk kapabilitas baru di dalam konteks yang baru. Dalam tahap persiapan belajar terdapat proses memperhatikan, harapan, dan pengambilan informasi yang relevan untuk dibawa ke ingatan kerja. Dalam kelas Psikologi Belajar, pastinya sebelum memulai perkuliahan, dosen memperhatikan keadaan kelasnya dahulu. Apabila bangku di depan masih kosong, Beliau sering meminta agar mahasiswa yang di belakang untuk mengisi bangku kosong di depan. Setelah melihat semua mahasiswa sudah siap untuk belajar, barulah dosen pengampu memulai kuliah. Terlebih dahulu dosen menanyakan kepada mahasiswa mengenai topik yang akan dipelajari pada saat itu, untuk mengetahui persiapan belajar mahasiswa dan membangun harapan agar mahasiswa lebih aktif di perkuliahan setelah mengetahui materinya atau bahkan sudah mempelajari materi tersebut, sehingga akan memudahkan proses belajar di kelas. Setelah itu biasanya dosen pengampu menanyakan apa yang khas dari teori tokoh psikologi belajar yang materinya akan dipelajari pada saat itu. Hal itu bertujuan agar mahasiswa mampu mengingat dan membedakan konsep teori psikologi belajar dari berbagai perspektif. Dalam tahapan akuisisi dan kinerja, terdapat proses persepsi selektif terhadap ciri stimulus, pengkodean semantik, retrieval dan respons, serta penguatan. Tahapan tersebut selain berguna untuk memudahkan mahasiswa dalam membedakan konsep yang khas dari berbagai tokoh, juga berfungsi agar mahasiswa mampu mentransfer informasi tersebut ke dalam ingatan jangka panjang (encoding) untuk selanjutnya diproses dan ketika ditanya kembali oleh dosen, mahasiswa akan merespon. Di dalam tahapan transfer belajar, terdapat proses pengambilan petunjuk dan kemampuan generalisasi. Aplikasinya di dalam kelas adalah, ketika di perkuliahan mendatang dosen kembali menanyakan tentang suatu konsep, maka dosen memberikan informasi tambahan mengenai konsep tersebut. Seperti halnya dosen pengampu pernah mengatakan bahwa teori yang sedang dipelajari pada saat itu tidak hanya dapat diaplikasikan kedalam satu kejadian saja, namun teori tersebut erat kaitannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan begitu, mahasiswa lebih mampu berpikir menyeluruh dan memperkaya transfer ke dalam situasi yang baru dengan kemampuan generalisasinya.

3)      Teori Kognitif & Perkembangan Kognitif
-          Dalam pemrosesan informasi, dibutuhkan perhatian selektif terhadap kejadian, objek, symbol, dan stimuli tertentu lainnya agar informasi itu dapat dipelajari. Seperti pada saat di dalam kelas Psikologi Belajar ketika dosen pengampu menjelaskan instruksi penugasan, mahasiswa seharusnya memberikan perhatian yang selektif agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda-beda mengenai pengerjaan tugas. Apalagi dalam penginstruksian tugasnya, dosen tidak hanya memberikan instruksi verbal di kelas, namun dapat berupa instruksi non verbal yaitu dengan memanfaatkan media grup facebook. Untuk itu mahasiswa harus lebih fokus memberikan atensinya terhadap instruksi-instruksi yang diberikan dosen. Sebuah model aktivitas metakognitif dalam belajar terdiri dari empat tahap , yaitu ; mendefinisikan tugas, menentukan tujuan dan perencanaan, melakukan taktik dan strategi belajar, serta mengadaptasi studi. Hal ini sesuai dengan proses review jurnal pada mata kuliah psikologi belajar. Dimana ketika dosen memberikan instruksi penugasan, maka mahasiswa memunculkan persepsi masing-masing mengenai pengerjaan tugas tersebut. Setelah memilih jurnal yang sesuai dengan instruksi, mahasiswa menentukan tujuan dan perencanaan dalam mereview jurnal tersebut. Apakah jurnal tersebut sudah memberikan informasi yang cukup jelas dan apa yang ingin dianalisa dari hasil jurnal tersebut. Lalu mahasiswa melakukan taktik dan strategi belajar, seperti memahami istilah-istilah kata dan penemuan-penemuan baru dalam jurnal tersebut, dan istilah-istilah baru yang ditemukan di jurnal tersebut akan dipelajari lagi melalui buku panduan sampai menemukan suatu titik kesimpulan dari jurnal tersebut sehingga kemudian dapat dipelajari dengan baik dan lebih mudah menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

4)      Teori Kognisi-Sosial Bandura
-          Asumsi teori belajar Bandura ada tiga, yaitu :
1.      Pemelajar dapat mengabstraksi informasi dari pengamatan terhadap oran lain dan membuat keputusan tentang perilaku yang akan dijalankan
2.      Tiga cara relasi yang saling terkait antara perilaku (B), lingkungan (E), dan kejadian personal internal (P) akan menjelaskan belajar
3.      Belajar adalah akuisisi representasi simbolik dalam bentuk kode verbal atau visual
Pada saat mata kuliah psikologi belajar, pernah suatu ketika dosen pengampu memberikan postingan di grup psikologi belajar terkait tugas observasi di SMK Tritech Informatika. Namun hanya beberapa mahasiswa yang merespons postingan tersebut. Dari situ terdapat proses modeling antara mahasiswa. Dimana ketidakresponsifan mahasiswa disebabkan banyaknya sebagian mahasiswa yang juga tidak responsive terhadap postingan dosen. Sehingga hal tersebut menjadi pengamatan bagi yang lainnya. Selain itu, dalam mengobservasi di SMK Triteck Informatika, sebelumnya mahasiswa saling berdiskusi dengan partner yang melakukan observasi di tempat yang sama mengenai apa yang harus mereka observasi dan bagaimana proses pengerjaan tugasnya. Sehingga dapat dijadikan keputusan mengenai apa yang harus mereka lakukan. Relasi yang terkait antara perilaku, lingkungan, dan kejadian personal internal tentu akan menghasilkan proses belajar. Dimana pada saat itu, banyak mahasiswa yang tidak aktif karena melihat mahasiswa lain dalam lingkungan kelas psikologi belajar juga tidak banyak yang aktif maupun memberikan kritikan, sehingga memperngaruhi perilaku mahasiswa untuk berani terampil aktif di dalam kelas. Selain itu, bisa jadi faktor mahasiswa sendiri yang malu-malu atau memang tidak suka menonjol di kelas yang mempengaruhi keaktifan mahasiswa tersebut. 

Laporan Hasil Observasi Di SMK Tritech Informatika Medan


·        Nama Observer                                 : Fitri Dian Adlina
·         Nim  Observer                                   : 101301091
·         Kelas yang Diobservasi                    : X-TKJ 4 Reguler
·         Mata Pelajaran                                  : Biologi
·         Nama Guru                                        : Ida Zuraida
·         Waktu Mengobservasi                     : 11.45 Wib – 12.15 Wib
·         Durasi Observasi                              : 30 Menit
·         Jumlah murid                                     : 24 Orang
·         Media Pembelajaran
yang digunakan Guru                              : TV LCD, Laptop,White Board, Spidol
·         Media Pembelajaran
yang digunakan Murid                            : Buku pelajaran, Laptop , alat tulis
·         Situasi Fisik Kelas                            
Kelas berukuran ± 9x8 meter dan memiliki AC sebanyak 2 buah. Diantara kedua AC tersebut ada TV LCD berukuran 29 inch dan ventilasi udara tepat diatas TV LCD. Kelas tersebut juga memiliki sebuah jam dinding yang letaknya di sebelah kanan TV. Memiliki kipas angin sebanyak 1 buah, whiteboard, lampu neon 4 buah dengan kondisi ; 3 buah yang menyala dan 1 tidak menyala, serta kursi bermeja untuk murid sebanyak 24 buah. Posisi belajar murid dibagi menjadi 3 baris. Satu baris terdiri dari 8 murid. Jarak antara murid dengan teman di sebelahnya pun cukup jauh. Meja untuk guru berukuran ± 100 x 50 cm dan dialasi taplak meja yang proporsional. Posisi meja guru berada di sisi kanan dari pintu masuk. Disamping meja guru terdapat sebuah kursi putar dan terdapat 2 set lemari kayu cukup besar yang diletakkan dekat dinding sebelah kanan murid. Ruangan kelas masih sedikit berantakan, di samping pintu ada serpihan papan yang belum dibersihkan.


·         Alat Observasi                         : Kertas, Pulpen, dan Handphone

Pedoman Observasi berdasarkan Tabel 5.2 Tinjauan atas Lima Variasi Belajar
Kategori Belajar
Kapabilitas
Penampilan
Informasi Verbal
  Pengambilan informasi yang tersimpan (fakta, label, diskursus)
   Menyatakan atau mengomunikasikan informasi tersebut dengan berbagai cara
Keterampilan Intelektual
    Operasi mental yang memungkinkan individu untuk merespons konseptualisasi lingkungan
     Berinteraksi dengan lingkungan tersebut dengan menggunakan symbol
Strategi Kognitif
      Proses kontrol pelaksana yang    mengatur pemikiran dan belajar dari pemelajar
     Mengelola ingatan, pemikiran, dan pemelajaran seseorang secara efisien
Keterampilan Motorik   
    Kapabilitas dan “rencana  eksekutif” untuk melakukan sekuensi gerakan fisik
    Mendemonstrasikan urutan fisik atau tindakan
Sikap
     Predisposisi ke tindakan positif atau negatif terhadap orang, objek, atau peristiwa
     Memilih tindakan personal terhadap atau menjauh dari objek, peristiwa, atau orang

Observasi Kondisi Kelas berdasarkan Pedoman Observasi Tabel 5.2
o   Informasi Verbal
-          Guru menjelaskan materi dengan sangat jelas. Beberapa kali guru mengulangi istilah-istilah dalam pelajaran biologi pada saat itu dengan tegas dan meminta murid juga menyebutkannya serta menuliskan bentuk tulisannya di papan tulis. Selain itu, Beliau juga selalu mengaitkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari sehingga materi lebih dapat mudah dipahami murid-murid. Guru juga tidak jarang memberikan pelajaran moral kepada muridnya, meskipun terkadang di luar konteks. Seperti ketika guru menjelaskan tentang virus dan penyakit kanker, maupun penyakit menular lainnya, Beliau dengan tegas mengingatkan kepada murid-muridnya agar pintar membawa diri dan jangan melakukan hubungan seks bebas.

o   Keterampilan Intelektual
-          Guru menjelaskan klasifikasi tumbuhan dikotil dan monokotil dengan memberikan contoh masing-masing tumbuhan. Sebelumnya guru juga menanyakan kepada murid apa contoh dari masing-masing klasifikasi tumbuhan tersebut dan menegaskan bagaimana cara membedakan tumbuhan dikotil dan monokotil.

o   Strategi Kognitif
-          Strategi kognitif yang diberikan oleh guru yaitu membantu murid untuk lebih mudah membedakan tumbuhan dikotil dan monokotil dengan melihat crri-ciri tumbuhan tersebut dan memastikan apakah murid-murid sudah dapat membedakannya. Tidak sedikit juga murid yang bertanya dengan guru mengenai perbedaan tumbuhan itu. Dalam penyajian materi di layar LCD juga sudah bagus, guru memberikan warna yang berbeda beserta contoh gambar tumbuhan yang ditampilkan. Hanya saja guru tidak menegaskan muridnya untuk mencatat poin-poin penting yang sudah dijelaskan. Padahal dengan mencatat poin penting dalam setiap materi, murid dapat berlatih mengoptimalkan memori mereka dalam proses belajar yang lebih baik.

o   Keterampilan Motorik
-          Dalam kelas yang saya observasi, guru tidak menjelaskan keterampilan motorik yang begitu berarti, akan tetapi Beliau menjelaskan bagaimana caranya agar murid-murid tersebut mengetahui apakah mereka memiliki penyakit amandel atau tidak yaitu dengan cara menyoroti senter dalam mulut mereka dan melihat bayangannya di tembok. Apabila ada sesuatu yang terlihat menggantung di langit-langit kerongkongan maka itulah yang dinamakan amandel. Saat menjelaskan materi tentang virus menular dan dampak hubungan seks bebas, Beliau juga memberikan sedikit contoh tindakan bela diri kepada murid-murid perempuannya untuk menjaga diri mereka dari laki-laki nakal.

o   Sikap
-          Guru sering sekali memberikan pelajaran-pelajaran moral kepada muridnya di setiap materi yang dijelaskan, seperti ; menghindari seks bebas dan jangan membantah perintah orang tua. Sehingga dengan begitu Beliau dapat menanamkan sikap prososial dan moral yang baik pada muridnya. Selain itu, Beliau juga memberikan penegasan kepada muridnya untuk menjaga kesehatan, bahwasannya mencegah lebih baik daripada mengobati. Beliau juga berpesan kepada muridnya agar jangan terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman yang banyak mengandung zat kimia. Dalam hal ini guru menjelaskan kandungan zat kimia dalam mi instan sebagai salah satu penyebab virus kanker. Untuk itu, Beliau menekankan kepada muridnya untuk banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan juga banyak meminum air putih.

Kerangka Proses Berpikir Observer dalam Mengobservasi Kelas berdasarkan Tabel 5.9 Langkah – langkah Utama dalam Analisis Tugas
LANGKAH
DESKRIPSI
      Mengumpulkan informasi                                           
   Menggunakan wawancara tidak terstruktur, dokumen, kuesioner, dan observasi untuk mengetahui arti penting, keterwakilan, dan frekuensi tugas
       Mengidentifikasi representasi pengetahuan
    Memeriksa tugas untuk mengidentifikasi subtugas dan tipe pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas itu
  Mengimplementasikan teknik untuk memunculkan pengetahuan
   Menggunakan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur untuk mengidentifikasi kondisi dan proses kognitif yang esensial bagi pemecahan problem yang kompleks
      Menganalisis dan memverifikasi data
(a)    Mengkodekan data yang diperoleh dalam tiga langkah pertama untuk mengategorisasikan, meringkas, dan / atau mengembangkan sintesis data
(b)   Menyajikan data yang sudah terformat kepada pakar untuk diperbaiki dan jika perlu direvisi
      Memformat hasil untuk digunakan 
   Menerjemahkan hasil ke dalam model yang menggambarkan keterampilan dasar, strategi pemecahan masalah, dan modem mental yang diimplementasikan pakar ke dalam tugas yang sangat kompleks

o   Mengumpulkan informasi awal
-          Sebelum melakukan observasi, saya mencari informasi mengenai bagaimana pengerjaan tugas ini, dengan berdiskusi bersama teman-teman saya. Setelah memahami apa yang harus saya kerjakan, saya mengumpulkan informasi tentang sekolah SMK Tritech Informatika yang akan diobservasi dan mencari pedoman observasi yang akan saya gunakan di kelas. Setelah sampai di lokasi, saya sempat berbicara dengan salah satu guru disana untuk menanyakan dimana kelas yang akan saya observasi. Setelah guru itu memberitahu dimana kelas saya, saya langsung mulai mengobservasi.

o   Mengidentifikasi representasi pengetahuan
-          Dalam mengobservasi, saya memerhatikan penjelasan guru dan melihat bagaimana perilaku murid-muridnya di kelas. Kemudian saya memeriksa pedoman observasi yang saya pilih apakah dari kelima variasi belajar seperti yang dimuat di tabel 5.2 itu bisa dilihat dari proses belajar di kelas ataukah perilaku yang diharapkan sesuai pedoman observasi tersebut tidak muncul. Sambil mengobservasi, saya juga berpikir apakah bagian-bagian tertentu dari proses pembelajaran yang dilakukan guru tersebut dapat dikategorikan ke dalam semua atau salah satu variasi belajar yang dimuat dalam tabel 5.2.

o   Mengimplementasikan teknik untuk memunculkan pengetahuan
-          Pada saat mengobservasi, saya tidak tahu ukuran ruangan kelas yang saya observasi. Sehingga saya dan partner saya mencoba menghitung manual untuk memperkirakan ukuran ruangan kelas tersebut. Setelah itu, saya bertanya lagi kepada teman-teman saya apakah ukuran ruangan kami sama. Sampai pada akhirnya saya mendapatkan ukuran ruangan kelas yang saya observasi. Di detik-detik terakhir pengobservasian, saya dan partner saya baru menyadari bahwa kami belum mengetahui nama guru yang sedang mengajar biologi di kelas tersebut. Sehingga kami sepakat setelah selesai mengobservasi kelas, kami akan maju ke depan menjumpai guru tersebut untuk mengucapkan terimakasih sekaligus menanyakan nama Beliau.

o   Menganalisis dan memverifikasi data
-          Setelah selesai mengobservasi dan mendapatkan data, saya kembali mencocokan data yang saya peroleh dengan pedoman observasi saya kemudian mengkategorisasikan ulang bagian dari proses belajar yang saya observasi dengan variasi belajar di tabel 5.2 untuk memastikan bahwa bagian-bagian tersebut dapat disesuaikan dengan pedoman observasi. Kemudian saya mulai mengembangkan analisis data yang saya peroleh berupa laporan.

o   Memformat hasil untuk digunakan
-          Setelah saya mengolah, menganalisis, serta mengembangkan data yang saya peroleh dalam bentuk laporan, saya merapikan laporan tersebut dengan format tulisan yang rapi dan bagus sebelum mengimplementasikanya kepada dosen pengampu melalui blog. Saya berusaha menggunakan kosakata yang baik dan benar, serta memberikan penjelasan yang dapat dipahami oleh dosen pengampu agar laporan observasi saya dapat diterima dan mendapatkan feedback untuk proses belajar yang lebih baik.



TESTIMONI
Ini pengalaman pertama saya mengobservasi kelas pada saat sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar. Awalnya ketika pertama kali menginjakkan kaki di SMK Tritech tersebut, saya tidak yakin bahwa itu adalah sekolah. Soalnya yang tampak dari luar seperti gedung yang sedang dibangun dan tidak terlihat seperti sekolah. Ketika memasuki sekolah, persepsi saya berubah lagi. Sekolah ini tampak seperti bimbel. Dimana ruang kelasnya sangat berbeda seperti kelas-kelas di sekolah pada umumnya yang pernah saya kunjungi. Awal masuk kelas dan ketika mulai mengobservasi, saya takjub melihat ada TV LCD yang digunakan sebagai media belajar oleh guru. Fasilitas media belajar di sekolah ini sudah sangat canggih. Namun yang saya lihat, karena LCD TV itu hanya berukuran 29 inch sedangkan satu baris terdiri dari 8 murid, sepertinya tulisan yang tertera di TV LCD tersebut tidak terlalu jelas bagi murid yang duduk di barisan paling belakang. Sehingga akan mempengaruhi proses belajar. Tapi over all saya senang ketika mengobservasi murid-murid di kelas itu, mereka antusias dengan kedatangan kami dan sering sekali menoleh-noleh ke saya dan partner saya ketika mereka sedang belajar. Mungkin ini pertama kalinya ada mahasiswa dari USU yang mengobservasi mereka. Kelas yang saya observasi murid-muridnya juga kooperatif dan welcome banget. Mereka kooperatif sekali dengan gurunya, langsung menanyakan hal yang tidak dipahami, bahkan tertawa keras dan menyeletuk di tengah-tengah pelajaran juga sering mereka lakukan. Saya lucu melihatnya. Meskipun dalam bathin saya berkata , sepertinya zaman saya sekolah dulu belum ada murid yang seberani dan seekspresif mereka ketika di kelas. Mungkin ini ada kaitannya juga dengan guru yang mengajar di kelas mereka pada saat itu. Bu Ida Zuraida, guru biologi yang mengajar pada saat itu memang tidak membosankan saat mengajar. Beliau suka melucu ketika mengajar dan sering memberikan pelajaran-pelajaran moral untuk murid-muridnya. Apalagi ketika saya dan partner saya memohon izin untuk pulang, Beliau mendoakan kami agar cepat lulus dan segera dapat jodoh. Saya tertawa geli mendengarnya sekaligus mengaminkan. Hehe.