Pages

Bagaimana Pengaruh Keefektifan Guru dalam Mengajar dengan Motivasi Belajar Siswa ?

Assalamu'alaikum .. kali ini saya akan memposting suatu pokok pembahasan dari permasalahan yang menjadi pertimbangan pemikiran saya, mengenai 'Pengaruh Keefektifan Guru dalam Mengajar dengan Motivasi Belajar Siswa'. Sebelumnya kita semua pasti sudah sering sekali mendengar istilah 'efektif'. Apa itu efektif ? Efektif adalah pencapaian hasil yang sesuai dengan tujuan seperti yang telah ditetapkan. Jadi, belajar yang efektif itu adalah suatu proses belajar yang dilakukan seseorang dengan metode-metode yang telah ditetapkan, dan strategis, sehingga tercapainya sebuah tujuan seperti yang telah direncanakan. Lalu bagaimana dengan predikat yang diberikan kepada seorang guru sebagai guru yang efektif dalam mengajar ? Apa yang menyebabkan seorang guru layak diberi predikat sebagai guru yang efektif dalam mengajar ? Apakah ada kriteria-kriteria khusus yang menjadi poin dan tolak ukur bagi seorang guru tersebut ? Baiklah .. pada postingan kali ini saya akan mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan referensi yang saya baca .

Menjadi seorang guru yang efektif dalam mengajar atau yang biasa kita dengar dengan istilah 'profesional' tidaklah mudah. Sebab , mengajar adalah hal yang kompleks, dan siswa selaku peserta didik sangat bervariasi (latar belakang sosial, motivasi, kemampuan awal,dll) maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Oleh karena itu, guru harus menguasai beragam persfektif dan strategi, dan harus mampu mengaplikasikannya secara fleksibel. John W. Santrock berpendapat bahwa untuk dapat melaksanakan hal di atas, ada dua hal utama yang dibutuhkan seorang guru, yaitu;
1. Pengetahuan dan Keahlian Professional meliputi;
a. Penguasaan terhadap Materi Pelajaran 
b. Strategi Pengajaran 
c. Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional
d. Keahlian Manajemen Kelas
e. Keahlian Motivasional
f. Keahlian Komunikasi
g. Bekerja secara Efektif dengan Siswa dari Latar Belakang Kultural Berbeda
h. Keahlian Teknologi
2. Komitmen dan Motivasi

Dengan begitu, seorang guru dapat dikatakan efektif dalam mengajar apabila  dapat  memotivasi peserta didiknya untuk belajar dan meningkatkan semangat belajar yang tumbuh berdasarkan kesadaran diri peserta didik, bukan karena takut akan pengajarnya. 
Dan satu hal lagi, guru yang berkomitmen dan mempunyai motivasi dapat menjadi guru yang efektif.
Berdasarkan kriteria-kriteria di atas, tentu bukan hal yang mudah bagi seorang guru untuk dapat mengaplikasikannya secara langsung ke dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Terlebih jika seorang guru yang mengajar bukan pada bidangnya, seperti tidak menguasai materi maupun bahan ajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik. Dan materi yang diajarkan jauh di atas kemampuannya. Dalam aturan pengajaran, seharusnya itu tidak diperbolehkan. Sebab, dalam pendidikan yang ditangani adalah masa depan seorang manusia , jadi tidak bisa sembarangan. Bukan hanya mengandalkan kemampuan intelektual saja, tetapi seorang guru yang efektif harus memiliki kecerdasan emosi dan penalaran yang baik terhadap peserta didiknya.

Nah, setelah mengetahui kriteria-kriteria yang dibutuhkan seorang guru agar bisa mengajar secara efektif , lalu muncul lagi sebuah pertanyaan implikatif mengenai motivasi belajar siswa. Bagaimanakah korelasi antara keefektifan guru dalam mengajar dengan motivasi belajar siswa ? 
Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen pokok dalam motivasi , yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Maslow, manusia hanya dapat bergerak ke growth needsjika dan hanya jika deficiency needs sudah terpenuhi. Hirarki kebutuhan Maslow merupakan cara yang menarik untuk melihat hubungan antara motif manusia dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan.
Dalam kegiatan belajar, peserta didik haruslah memiliki motivasi belajar. Sebab jika tidak memiliki motivasi belajar, maka proses pembelajaran yang sedang dilakukan akan terhambat dan tidak berkembang. Untuk itu , disinilah peran seorang guru sangat DIBUTUHKAN. Guru yang efektif tentu akan mengerti bagaimana cara memotivasi peserta didiknya, dan lebih peka dengan kondisi yang dialami peserta didiknya. Banyak faktor yang menjadi penyebab utama  penurunan motivasi belajar. Tidak hanya sebatas bosan dengan materi yang disampaikan oleh guru, ataupun cara mengajar guru yang tidak memberikan stimulus yang baik kepada peserta didik. Sehingga tidak mendapatkan respon  aktif dari peserta didik,tetapi lingkungan juga sangat berperan dalam menurunkan motivasi belajar. Di lingkungan sekolah, tentu banyak murid yang memiliki kepribadian dan cara berinteraksi yang berbeda-beda. Dan hal ini tidak menutup kemungkinan mengakibatkan perubahan pandangan hidup ,minat dan motivasi belajar siswa  dikarenakan kontak sosial yang 'salah'. Maka fungsi guru yang efektif (lagi-lagi) dibutuhkan disini. Dengan melakukan pendekatan dan penalaran yang baik terhadap murid yang bermasalah.  Menurut saya , tidak pantas jika seorang guru langsung memberikan punishment tanpa mengidentifikasi sumber permasalahannya. Untuk menjadi guru yang efektif itu, seharusnya lebih menekankan apresiasi daripada hukuman dalam mendisiplinkan murid. Jika yang terjadi malah sebaliknya, maka hal tersebut hanya akan menambah kecemasan murid dan semakin menurunkan minat serta motivasi belajar mereka. Disaat-saat seperti ini tentu dibutuhkan kesabaran dan kemampuan mengontrol serta mengelola emosi oleh seorang guru yang efektif. Bukankah seorang guru yang efektif itu dituntut agar dapat menciptakan suasana yang nyaman , meskipun keadaannya memang tidak demikian ? Dengan rasa empati dan kepekaan yang dimiliki, tentu akan membuat murid merasa menjadi lebih comfort dan percaya untuk mensharing problem nya kepada guru tersebut, tanpa ada rasa kekhawatiran akan citra buruk yang langsung diterima. Ada banyak cara yang dapat dilakukan seorang guru untuk meningkatkan kembali motivasi belajar muird. Seperti yang dikatakan Dewey ," Anak-anak harus belajar agar mampu memecahkan maslah secara reflektif." Jadi dengan adanya problematika yang terjadi dengan murid, maka guru tidak boleh langsung menge-judge dengan statement yang menyudutkan, tetapi berikan ia stimulus mengenai proses pembelajaran yang sedang dihadapinnya saat ini, agar murid tersebut dengan cepat memiliki kesadaran diri atas perubahan perilakunya , dan biarkan ia menemukan caranya sendiri yang lebih efektif (tentunya dalam batas normal) untuk menyelesaikan masalah, sedangkan guru tetap sebagai monitor. Dengan begitu mungkin akan terjadi proses pembelajaran yang mengakibatkan seorang murid mengalami peningkatan kedewasaan dari tahap sebelumnya. 
Dan untuk dapat mengurangi sebanyak mungkin pengaruh negatif, lingkungan pendidik dan orang tua harus meningkatkan kembali fungsi mereka sebagai pengendali lingkungan primer dan sekunder. Di Indonesia, kebutuhan untuk menghargai orang tua dan guru masih cukup besar. Selain itu diperlukan motivasi yang kuat dari pihak orang tua dan guru sendiri. Ada baiknya orang tua lebih sering mengadakan komunikasi dengan wali kelas, atau bahkan dari pihak sekolah menjadwalkan secara khusus dan teratur pertemuan antara wali murid dan guru. Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui perkembangan anaknya di lingkungan sekolah, dan guru juga akan lebih mudah melakukan pendekatan dengan murid melalui proses sosialisasi terhadap orang tua murid terlebih dahulu. Jika terjalin kerjasama yang baik antara orang tua dan guru, kemungkinan akan lebih mudah meminimalisir pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Sekian postingan saya mengenai korelasi antara keefektifan guru dengan motivasi belajar siswa. Apabila terdapat kesalahan dalam berargumen, harap dimaklumi karena pengetahuan saya juga terbatas. Dan bahwa saya juga sedang dalam proses pembelajaran. Hehe . Semoga postingan ini memberikan manfaat, khususnya dalam pembelajaran mengenai dunia pendidikan. Silahkan berkomentar jika Anda memiliki pandangan lain.

Dan terimakasih kepada bu Dina yang memberikan wewenang untuk memposting tugas ini, apabila terdapat tulisan-tulisan yang tidak layak mohon dikoreksi ya Bu. Hehe
Sekian dan terima kasih ..

Wassalam http://www.smileycodes.info
Daftar Pustaka :
Santrock, J.W. 2010. Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Kencana. 
Lahey, Benjamin B. 2007. Psychology an Introduction Ninth Edition. Chicago:Mc Grow Hill

0 komentar:

Poskan Komentar